Saturday, November 26, 2011

Krisis di Ajax Amasterdam, Pilih Cruyff Atau Louis van Gaal?


Ajax Amsterdam harus memutuskan pada bulan depan, apakah Johan Cruyff atau Louis van Gaal, yang akan memimpin mereka ke puncak kejayaan di kompetisi Eropa.

Keputusan tersebut harus diambil menyusul perang politis internal yang telah terjadi selama sebulan, dan bahkan melibatkan dugaan rasisme terhadap Cruyff, namun telah disangkalnya.

Maestro Belanda ini, salah satu mantan pesepak bola terbaik dunia, adalah seseorang yang memiliki pandangan kuat, yang tidak pernah akur dengan Van Gaal, dan telah teralienasi karena opini-opininya.

Kisruh tersebut menyulitkan proses restorasi Ajax ke masa lalu penuh kejayaan mereka, bahkan melibatkan dugaan kasus rasisme yang disiarkan Dutch TV.

Edgar Davids, mantan pemain Ajax yang pernah memperkuat klub tersebut selama dua periode, mengatakan dalam wawancara televisi kalau ia pernah menerima pelecehan rasial dari dewan klub.

Meskipun Davids, yang memiliki darah Suriname, tidak menyebutkan pihak yang telah melecehkannya, namun ketua dewan pengawas Ajax, Steven ten Have kemudian mengatakan pada Dutch TV kalau Cruyff pernah berkata pada Davids: "Anda bisa menjadi anggota dewan, hanya karena anda (berkulit) hitam."

Cruyff telah secara tegas menepis dirinya melakukan pelecehan rasial. Ia menuliskan dalam kolom mingguannya di surat kabar De Telegraaf pada Selasa (22/11): "Ajax adalah klub multikultural, dan kami banyak menemukan pemain-pemain imigran yang berhenti (bermain) saat mereka mencapai masa puber."

"Maka kami ingin mengatasi persoalan ini dengan memasukkan seseorang dengan latar belakang yang sama, yang telah melaluinya. Dan (sosok) itu adalah Edgar Davids. Dalam salah satu perseteruan saya pernah menunjuk-nunjuk dirinya. Tapi itu bukan karena warna kulitnya."

Davids sendiri mencoba menurunkan tensi perseteruan, dengan menulis pada situs pribadinya, "Saya tidak pernah mengatakannya, dan saya ingin menekankan, kalau John Cruyff bukan seorang rasis, meskipun sangat disayangkan ia mengeluarkan pernyataan seperti itu. Saya ingin menjelaskan kalau saya memiliki rasa hormat teramat dalam bagi pesepak bola seperti Johan Cruyff."

Proyek Ambisius

Masalah rasisme pada pekan ini telah membelokkan perhatian dari perang pengendalian Ajax, dengan anggota dewan Ajax yang menyuarakan niat mereka untuk mengembalikan pamor klub di kancah sepak bola papan atas Eropa.

Tiga anggota dewan, dipimpin oleh ketua Uri Coronel akan mengundurkan diri pada awal pekan depan, dan penunjukkan salah satu anggota baru akan masuk agenda ketika 24 anggota dewan melakukan pertemuan pada Senin (28/11) nanti.

Majelis juga harus memutuskan apa yang akan dilakukan terhadap lima orang dewan pengawas, di mana Cruyff merupakan salah satu anggota, dan empat anggota lain termasuk Davids di pihak lain, sebelum pertemuan rapat pemegang saham yang dijadwalkan akan dilakukan pada 12 Desember.

Pada akhirnya asosiasi suporter Ajax, yang memiliki lebih dari 70 persen saham, akan memutuskan apa yang harus dilakukan terhadap perpecahan di dewan pengawas.

Cruyff berkata pada Minggu (20/11) kemarin, kalau ia tidak akan melanjutkan pekerjaannya di dewan pengawas dengan empat anggota lainnya, yang pekan lalu melakukan kesepakatan dengan Van Gaal untuk mendatangkannya kembali ke Ajax sebagai direktur umum pada 1 Juli.

Cruyff, yang bermain saat Ajax menjuarai tiga Liga Champions pada 1971 sampai 1973, mengatakan kalau yang lain telah hilang di balik punggungnya.

"Terlalu banyak hal telah terjadi, membuat saya kebingungan," tuturnya. "Kesepakatan dengan Van Gaal benar-benar poin rendah."

Bukan rahasia kalau Cruyff tidak pernah akur dengan Van Gaal, yang dipecat sebagai pelatih Bayern Muenchen pada April.

"Ini saatnya bagi klub untuk memutuskan arah mana yang akan mereka ambil, sebab saya tidak akan bekerja sama lagi dengan empat komisioner (di dewan pengawas)," kata Cruyff.

Jalan masa depan

Cruyff tidak ingin bekerja dengan Van Gaal, yang juga tidak mau mengadopsi rencana teknis orang lain untuk pengembangan Ajax dan pemain-pemain muda klub ini.

Cruyff mendapat dukungan dari sebagian besar staf di akademi pemain muda Ajax, yang telah memproduksi ratusan pemain hebat di seluruh Eropa. Di sisi lain, Cruyff juga memiliki musuh yang sekarang mendukung kehadiran Van Gaal.

Cruyff telah mengatakan kalau di bawah rencananya tidak ada tempat untuk direktur teknis atau direktur dengan lisensi kepelatihan.

Keadaan tidak harmonis ini sekarang telah melibatkan beberapa mantan pemain seperti Wim Jonk, Dennis Bergkamp, dan pelatih Ajax, Frank De Boer.

"Wim Jonk, Dennis Bergkamp, dan pelatih kepala, Frank De Boer memiliki tanggung jawab masing-masing di bidang pengaturan teknis dan ketiganya akan mengatur bagian tersebut di klub," kata Cruyff.

Mantan gelandang Belanda, Jonk, memaparkan rencana besar Cruyff pada majalah Voetbal International edisi Rabu.

"Pada beberapa tahun terakhir, terdapat banyak perubahan dalam cara kerja, semua diawali oleh pelatih. Itu seharusnya tidak terjadi," keluhnya.

"Kami mengeksekusi filosofi yang yang seharusnya diikuti oleh semua pelatih, jika kami pergi. Itulah keinginan besar Johan, menciptakan program yang dapat bertahan setidaknya selama 100 tahun."

Masalah akan hadir dua pekan pekan sebelum natal, ketika Ajax harus memutuskan masa depan mereka.

Sumber

Ditulis Oleh : News Online // 4:10 PM
Kategori:

0 comments:

Post a Comment