Tuesday, November 1, 2011

Riset Data Tinggi Badan di Sepakbola


Indonesia vs Bayern Munchen
"Firman (165cm) vs raksasa Munchen"
Memang tidak sedikit pemain sepakbola pendek yang berada di level dunia, tapi pendapat umum seringkali mengatakan: postur tinggi tetap lebih baik untuk olahraga ini. Benarkah? berikut ada data-data yang bisa membantu kita untuk merumuskan jawaban.

Blog 'Soccer by the number' menganalisa hubungan antara tinggi badan dengan sepakbola, dia memakai data dari Professional Football Players Observatory yang dipadukan dengan data milik Achim Kemmerling, seorang peneliti dari Central European University.

Professional Football Players Observatory
Professional Football Players Observatory (PFPO) didirikan sejak tahun 2005, misinya adalah memonitor tren demografi di persepakbolaan Eropa. Studi yang dilakukannya mencakup 36 negara anggota UEFA (13.000 pemain), jadi data yang dimilikinya cukup besar.

Berikut ada beberapa temuan menarik dari data PFPO, seperti yang ditulis di artikel Guardian.

Skuad Barcelona, klub sepakbola tersukses dalam beberapa tahun terakhir, memiliki rata-rata tinggi badan terpendek di Eropa (177.38cm). Jika begini, jadi seberapa besar sesungguhnya pengaruh tinggi badan dalam sepakbola?

Tinggi rata-rata pemain sepakbola di seluruh Eropa adalah 181,96 cm. Faktanya, tren tinggi badan rata-rata semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Mungkin ini terjadi karena sepakbola memang semakin mengandalkan fisik, atau mungkin saja peningkatan ini cuma kebetulan belaka.

Kasus Barcelona memang unik. Mereka bisa meraih banyak trophy dengan skuad terpendek di Eropa. Klub dengan skuad terpendek setelah Barcelona, cuma klub-klub biasa (Shamrock Rovers, AEK Larnaca, Lorient dan St Mirren). Menurut analisa Guardian, sangat mungkin bahwa faktor fisik tetap penting. Dan mungkin saja Xavi, Messi, Iniesta, Sneijder, Nasri dan Luka Modric hanyalah generasi aneh dari pemain-pemain berbakat yang cepat atau lambat akan segera digantikan oleh pemain-pemain raksasa.

Atau mungkin ada lag antara kebutuhan permainan dengan sistem perekrutan pemain. Studi dari PFPO menunjukkan adanya kecenderungan, sebelas pemain starter memiliki rata-rata tinggi badan yang lebih pendek daripada keseluruhan skuad. Saat merekrut pemain, tinggi badan bisa menjadi faktor yang diperhitungkan. Tapi saat pemain sudah berada di dalam skuad, pelatih bisa memilih berdasarkan performa saat latihan daripada tinggi badan.

Satu catatan penting dari data PFPO, tinggi badan rata-rata pemain sepakbola Eropa ternyata lebih tinggi daripada tinggi badan rata-rata seluruh penduduk di negara yang bersangkutan. Dengan kata lain, rata-rata pemain sepakbola di Eropa lebih tinggi daripada orang kebanyakan (bukan pemain bola).

Penelitian Achim Kemmerling tentang Tinggi Badan
Sulit untuk menjawab apakah sepakbola memang butuh postur tubuh yang tinggi atau tidak. Achim Kemmerling, ilmuwan dari Central European University (Budapest) punya grafik yang menghubungkan rata-rata tinggi badan populasi tiap negara dengan koefisien FIFA.

Grafik Tinggi Badan

Garis regresi menunjukkan kecenderungan seberapa baik sebuah negara dalam bermain sepakbola (koefisien FIFA) dengan tinggi badan rata-rata tertentu yang dimilikinya. Kesimpulan secara kasar dari grafik ini, negara yang berada di atas garis regresi bisa memaksimalkan rata-rata tinggi badannya untuk bermain sepakbola lebih baik daripada negara kebanyakan. Dan sebaliknya.

Dalam grafik ini, ada beberapa negara yang menjadi outlier. Mereka adalah negara yang sangat jauh dari tren kebanyakan (garis regresi). Ambil contoh Spanyol, dengan tinggi badan rata-rata 175+ cm, mereka punya koefisien FIFA yang sangat tinggi, jauh melebihi negara lain yang punya rata-rata tinggi badan serupa. Negara lain yang seperti Spanyol adalah Belanda dan Jerman. Mereka adalah juara 1, 2, dan 3 di Piala Dunia 2010. 

Negara-negara yang berada di atas garis adalah negara yang punya prestasi di sepakbola, baik dunia maupun regional. Indonesia? kita masih ada di bawah garis. Dengan kata lain, dengan rata-rata tinggi badan yang kita miliki, koefisien FIFA kita belum optimal. Bandingkan dengan Bolivia misalnya, yang walau rata-rata tinggi badannya lebih pendek, tapi bisa sedikit berada di atas garis.

Jadi, benarkah tinggi badan adalah faktor penting dalam sepakbola? Beberapa negara yang sepakbolanya kuat, memiliki performa yang lebih baik daripada apa yang bisa diprediksikan berdasarkan tinggi badan mereka. Sekali lagi ambil contoh Spanyol. Kebanyakan negara dengan tinggi rata-rata 175+ cm punya koefisien FIFA 600-700, tapi Spanyol bisa jauh ada di atas itu. Kasarnya, negara seperti Spanyol telah menemukan ramuan rahasia untuk memaksimalkan tinggi badan mereka.

Pangeran Siahaan, menulis di blognya saat itu Indonesia kalah 0-3 dari Iran. "Kita memang kalah postur, tapi daripada mengutuk tinggi badan pemain kita yang pas-pasan, bukankah lebih baik mencari cara untuk mengatasi kekurangan itu?"

Menurut Djenol, fisik yang terlalu kecil merupakan faktor negatif dalam sepakbola. Kalah dalam adu fisik, kecepatan, ketahanan dan perebutan bola atas. Sementara sepakbola modern sangat menuntut kekuatan fisik dan stamina prima. 

Sesungguhnya sepakbola bukan olahraga yang diskriminatif terhadap tinggi badan atau postur tubuh. Orang dengan beragam ketinggian, punya kesempatan yang sama untuk memainkan olahraga ini. Postur tubuh hanyalah satu faktor. Skill, stamina, mental, dan cara bermain adalah faktor lainnya. Messi dan sejenisnya bisa hebat karena hanya lemah di postur tubuh. Tapi kalau sudah skillnya pas-pasan, tinggi berapapun juga tidak ada pengaruhnya. 

Biarkan lemah di tinggi badan, asal faktor lain bisa menutupi. Bagaimanapun juga, kemenangan dalam sepakbola dihitung dari jumlah gol yang bisa dijaringkan, bukan dari berapa centimeter ukuran tinggi badan.

Ditulis Oleh : News Online // 10:23 PM
Kategori:

0 comments:

Post a Comment