Monday, December 5, 2011

Bantal Raksasa Pecahkan Rekor MURI


Bantal yang dibalut kain batik bermotif jagad Semarang berwarna biru, itu, memiliki berat 10 kilogram. Benda berukuran raksasa tersebut, memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) untuk memperkenalkan Batik Semarangan kepada masyarakat Kota Semarang dan Indonesia.

Panitia Pelaksana, Eko Haryanto, mengatakan ingin membuat sensasi karena selama ini Batik Semarangan masih kurang dikenal luas oleh masyarakat terutama warga Kota Semarang. "Kami ingin batik khas Semarang, lebih dikenal," katanya kepada wartawan, di Semarang, Minggu (4/12/2012).

Ide membuat bantal raksasa, ini, Eko menganggap lebih mudah daripada membuat guling, kasur atau pun sprei. "Ternyata membuat bantal raksasa susah juga meski akhirnya tercapai juga, dan untuk membawanya ke sini (balai kota) dari Gedung Pandanaran juga tidak mudah karena sangat berat," tutur pria yang menyebut bantal tersebut, dikerjakan dalam dua minggu.

Awalnya, sesuai rencana dari panitia akan ditempatkan di sebuah tempat yang disediakan. "Tempat itu, disediakan agar media lebih mudah mengambil gambarnya dan menunjukkan besarnya bantal yang dibuat oleh 50 pengrajin batik," bebernya sembari memperlihatkan tempat yang sudah disediakan panitia.

Pihak MURI, yang diwakili oleh Paulus Pangka, menyerahkan piagam rekor kepada Wali Kota Semarang, Soemarmo HS dan memberikan piagam penyelenggara pemecahan rekor kepada Kadinas Pariwisata Kota Semarang, Nurjanah. "Bantal ini, memecahkan rekor yang dipegang oleh PT Dunlopillo dengan ukuran panjang enam meter, lebar empat meter dan tinggi 80 centimeter," paparnya.

Wali Kota Semarang, Soemarmo HS, mengatakan bantal raksasa ini mempuyai makna, bukti masyarakat Semarang bisa hidup nyaman. "Acara kali ini, kami berharap sebagai titik tolak kebangkitan batik di Kota Semarang lebih berkembang baik pendapatannya dan kualitasnya serta tidak kalah dengan daerah lainnya," ujarnya.

Selain pemecahan rekor bantal batik raksasa, 50 pembatik dari komunitas himpunan batik Semarang (Hebats) membatik 50 meter kain tanpa sambungan. Eko Haryanto, mengatakan ingin mewujudkan batik khas Semarangan terpanjang.

"Kami ingin membuat lebih panjang dari 50 meter tapi karena keterbatasan tempat dan waktu, urung diwujudkan. Obsesi saya, membuat batik yang panjangnya dari ujung timur sampai ujung barat Kota Semarang," sambung pria yang mengaku kesulitan dana dan tenaga untuk mewujudkan obesinya.

Ia dan pembatik-pembatik lainnya, pernah membatik tulis di atas kain 33 meter pada 2009, 2010 dan 201150 meter tanpa sambungan. "Kalau yang kali ini campuran, antara batik cap dan tulis," jelas lelaki yang saat ditemui, mengenakan topi warna putih dan kaus warna kuning.

Menurutnya, kurang dikenalnya Batik Semarangan karena pembatik di ibukota Jateng tidak tersentralisasi di satu tempa berbeda dengan yang ada di Pekalongan. "Dulu Kampung Batik, menurut sejarahnya sentra pembuatan dan penjualan batik tetapi setelah Jepang masuk dan kondisi tidak aman, batik Semarangan menghilang," tuturnya.

Satu dari 50 pembatik yang ikut membatik di atas kain dengan panjang 50 meter, Sofie (21), mengaku membatik hanya ikut-ikutan saja dan dia bukanlah seorang pecanting. "Saya baru bisa juga, awalnya ikut-ikutan karena suka dengan batik," ungkap mahasiswi Jurusan Administrasi Bisnis, FISIP Undip Semarang.

Dara yang mengaku belajar membatik, dalam waktu sebulan tersebut, tertarik untuk berbisnis atau berwirausaha di bidang batik. "Ingin membuka bisnis, bidang fashion dan tentu ada hubungannya dengan batik," lanjut Sofie yang mengaku mukim di Bukit Kencana, Tembalang.

Ia menganggap, batik khas Semarang akan berkembang bagus jika memang dikelola dengan baik seperti halnya di kota-kota lain yang juga mempunyai ikon batik. "Tertarik karena batik menjadi satu di antara ikon Kota Semarang, motif-motifnya juga menggangkat ikon kota ini," terangnya.

http://forum.vivanews.com/berita-dalam-negeri/243228-bantal-raksasa-pecahkan-rekor-muri.html

Ditulis Oleh : News Online // 3:25 PM
Kategori:

0 comments:

Post a Comment