Thursday, December 22, 2011

Luis Suarez: Pemain Berbakat Yang Sarat Kontroversi

Luis Suarez mungkin adalah salah satu pemain paling berbakat saat ini, namun kontroversi selalu saja mengikuti kiprahnya di lapangan hijau. Bahkan sifat bengal itu telah terlihat saat dirinya berumur 14 tahun, yaitu ketika dirinya menjadi pemain di tim junior Nacional. Pada suatu malam dirinya pernah kedapatan tengah berpesta sambil minum minuman keras. Beruntung pelatihnya hanya memberi peringatan kepadanya untuk benar-benar serius bermain bola atau tidak diturunkan sama sekali.

Suarez rupa-rupanya memperhatikan perkataan pelatihnya tersebut hingga dapat melakukan debutnya sebagai pemain di bulan Mei 2005 pada usia 16 tahun melawan Junior de Barranquilla di piala Libertadores. Suarez bahkan mampu mencetak gol pertamanya di bulan September 2005 dan berhasil membantu Nacional menjuarai Liga Uruguay 2005-2006 dengan torehan 10 gol dari 27 pertandingan.

Keberuntungan menghampiri Suarez kala rombongan pemandu bakat klub Groningen asal Belanda tengah berada di Uruguay untuk memantau pemain lainnya. Para pemandu bakat itu mengalihkan perhatian mereka ke Suarez saat melihat gol cantiknya ke gawang. Setelah pertandingan mereka mendekati Suarez dan mengatakan minat mereka untuk merekrutnya setelah musim berakhir. Groningen bersedia membayar Nacional 800,000 Euro untuk mendapatkan Suarez saat itu.

Raja Gol Dan Kartu
Suarez telah berumur 19 tahun saat mengawali karirnya di Eropa bersama Groningen. Awalnya ia menemui kesulitan dalam berkomunikasi karena tidak menguasai bahasa Belanda ataupun Inggris dan ia bermain di tim cadangan untuk beradaptasi dengan gaya bermain Belanda. Untungnya di Groningen ada pemain asal Uruguay lainnya yang bernama Bruno Silva yang kemudian membantu Suarez untuk bisa nyaman hidup di Belanda.

Sebagai pemain baru di Groningen, Suarez cukup tajam dengan mencetak banyak gol. Namun sayangnya pemuda Uruguay ini memiliki masalah dalam hal kedisiplinan. Dalam lima pertandingan di bulan Januari 2007, Suarez berhasil mencetak empat gol, tapi sayang prestasinya harus tercoreng dengan koleksi 3 kartu kuning dan 1 kartu merah. Suarez mengakhiri 29 penampilannya bersama Groningen dengan raihan 10 gol untuk membantu klub tersebut duduk di peringkat ke-8 pada Eredivisie 2006-2007.
Suarez lalu hijrah dengan menandatangani kontrak selama 5 tahun di Ajax dan menjalani debutnya pada pertandingan kualifikasi Liga Champions melawan Slavia Prague. Pada musim pertamanya, Suarez mampu membantu Ajax finish di peringkat dua pada musim 2007-2008 dengan torehan 17 gol dari 33 pertandingan.

Pada musim berikutnya, pelatih Ajax saat itu, Marco van Basten mencatat bagaimana Suarez memainkan peran penting dalam lahirnya gol-gol bagi Ajax, namun van Basten juga kecewa dengan jumlah kartu kuning yang diterima Suarez. Suarez bahkan pernah dilarang bermain karena kartu kuning ketujuh yang diterimanya musim itu saat melawan Utrecht. Dirinya juga pernah dihukum saat terlibat perselisihan dengan rekannya Albert Luque di ruang ganti setelah turun minum. Ajax akhirnya menyelesaikan musim 2008-2009 di tempat ketiga dan Suarez berhasil mencetak 22 gol dalam 31 ​​pertandingan liga.

Ketika membela Ajax, Suarez mencatatkan total 111 gol dari 159 penampilannya, sungguh fantastis untuk melupakan kartu-kartunya.

The Cannibal of Ajax
Sebelum musim 2009-2010 dimulai, terjadi pergantian pada posisi pelaih Ajax, Martin Jol datang menggantikan van Basten. Jol memberi ban kapten Ajax kepada Suarez ketika kapten sebelumnya, Thomas Vermaelen hijrah ke Arsenal. Suarez kemudian berubah menjadi monster gol yang ganas bagi Ajax  di musim ini. Total ia mencetak 35 gol dari 33 pertandingan dan 49 gol pada semua kompetisi. untuk prestasinya itu Suarez mendapat penghargaan Ajax Player of the Year untuk kedua kalinya secara berturut-turut dan juga dinobatkan sebagai Dutch Footballer of the Year.

Klub-klub besar Eropa pun mulai menunjukan ketertarikan mereka kepada Suarez, terlebih setelah dirinya tampil menawan di Piala Dunia 2010. Suarez akhirnya berhasil mencetak gol ke-100 untuk Ajax pada pertandingan kualifikasi Liga Champions melawan PAOK yang berakhir 1-1. Karena prestasinya tersebut Suarez masuk ke dalam grup pemain elit Ajax, bersama Johan Cruyff, van Basten dan Dennis Bergkamp, sebagai pemain yang berhasil mencetak 100 gol lebih untuk klub.

Sayangnya, keganasan Suarez dalam mencetak gol juga merembet ke sifat buruknya. Pada 20 November 2010, Suarez kembali berada dalam kesulitan ketika ia menggigit bahu pemain PSV, Otman Bakkal. Ajax kemudian menskorsnya untuk dua pertandingan dan denda yang jumlahnya tidak pernah diungkapkan, klub hanya mengatakan mereka akan menyumbang uang tersebut untuk sebuah "tujuan baik". Akibat insiden itu harian surat kabar Belanda De Telegraaf memberi Suarez sebutan "Cannibal of Ajax". Sementara itu KNVB menambah hukuman larangan bermain bagi Suarez menjadi tujuh pertandingan liga.

Suarez akhirnya meminta maaf atas tindakannya itu melalui video yang diunggah ke laman Facebook-nya. Selama masa hukumannya berjalan, Ajax bergerak cepat dengan melakukan kontak dengan klub-klub Eropa lainnya yang tertarik pada Suarez. Pada 28 Januari 2011 Ajax menerima tawaran sebesar 22,8 juta Pounds untuk Suarez dari klub Inggris Liverpool.

Meskipun meninggalkan Ajax dalam masa hukuman, hubungan Suarez dan Ajax tetap terjalin baik, dan ia diberi momen perpisahan setelah pertandingan Ajax usai. Penonton mengiringi kepergian Suarez dengan tepuk tangan dan kembang api.


Kiper Dadakan
Pada bulan Juni 2010, Oscar Tabarez memasukkan Suarez ke dalam 23 pemain Uruguay yang akan berangkat ke Piala Dunia Afrika Selatan. Uruguay memulai turnamen dengan hasil imbang 0-0 melawan Perancis. Pada game kedua, mereka menang 3-0 atas Afrika Selatan, Suarez mencetak gol dari penalti dan membantu lahirnya gol Alvaro Pereira pada pertandingan tersebut. Pada pertandingan terakhir grup, Suarez mencetak gol hasil umpan Edinson Cavani dan menjadi Man of The Match dalam kemenangan 1-0 atas Meksiko. Uruguay akhirnya memenangkan Grup A dan maju ke babak selanjutnya.

Pada babak 16 besar melawan Korea Selatan, Suarez kembali menjadi bintang kemenangan dengan mencetak dua gol dalam kemenangan 2-1 untuk Uruguay. Kemenangan ini membuat Uruguay lolos ke perempatfinal Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 1970.

Kontroversi Suarez kembali terjadi dalam pertandingan perempat final melawan Ghana. Pertandingan berlangsung cukup alot sehingga dibutuhkan waktu ekstra setelah keduanya bermain imbang 1-1.
Pada akhir waktu tambahan,
Ghana yang berpeluang mencetak gol saat terjadi kemelut di depan gawang Uruguay. Saat itu Ghana mendapat kesempatan tendangan bebas, namun Suarez berhasil menahan tendangan Stephen Appiah di garis gawang. Ghana kembali harus gigit jari saat Suarez kembali berhasil menahan sundulan Dominic Adiyiah di garis gawang namun dengan tangannya.

Suarez mendapat kartu merah, tetapi sayang Asamoah Gyan gagal memanfaatkan kesempatan tendangan penalti dan Suarez merayakannya ketika Uruguay menang 4-2 ketika pertandingan harus dilanjutkan lewat adu penalti. Uruguay akhirnya maju ke semifinal berkat kontroversi Suarez.

Ucapan Rasis
Drama The Reds Battle tidak berhenti di Anfield. Federasi Sepak Bola Inggris (FA) mendapat laporan isu rasisme terjadi ketika Liverpool menjamu Manchester United. Bek kiri United, Patrice Evra sebelumnya sudah mengatakan kepada reporter asal Prancis jika penyerang Liverpool, Luis Suarez telah menyerangnya dengan perkataan rasis. Kepada Canal Plus, Darren Tulett, Evra mengatakan jika Suarez menyerangnya dengan perkataan rasis setidaknya 10 kali untuk memancing emosinya selama pertandingan di Anfield.

Dalam laga yang berkesudahan 1-1 lalu, striker Liverpool dan bek Manchester United itu terlihat bersitegang. Walau sudah mencoba didamaikan oleh wasit Andre Marriner, Evra terlihat masih tidak terima dengan Suarez yang dianggapnya telah menghinanya dengan kalimat berbau rasis.

Striker The Reds itu sendiri pun mengaku ia tak pernah mengatakan itu semua karena menganggap semua manusia adalah sama. "Saya terkejut dengan tuduhan rasisme ini. Yang saya katakan hanyalah saya selalu dihormati dan menghormati semua orang," ungkap Suarez.

Selasa, 20 Desember lalu FA telah menjatuhkan hukuman kepada Suarez dengan delapan kali larangan tampil dan denda sebesar 40 ribu poundsterling kepada striker Liverpool tersebut. FA masih akan menunggu banding dari striker tim nasional Uruguay ini hingga 14 hari ke depan.

Jari Tengah
Belum usai dengan kasus rasisnya, Suarez kembali menuai kontroversi baru. Penyerang Uruguay berusia 24 tahun itu kedapatan mengacungkan jari tengahnya ke arah suporter tuan rumah usai pertandingan di mana 10 pemain The Reds tumbang dengan skor 1-0 tersebut.
Suarez sendiri mendapat cibiran dari suporter The Cottagers sepanjang pertandingan karena dianggap kerap melakukan aksi teatrikal.

Namun manajer Liverpool, Kenny Dalglish tak mau mengambil tindakan apapun untuk Suarez sampai ada bukti lebih lanjut, dan mengecam cemoohan yang kerap diterima mantan penyerang Ajax itu.

"Cemoohan itu sebuah skandal. Kami akan menjaga Luis sebaik mungkin, dan saya pikir ini saatnya ia mendapatkan sedikit proteksi. Integritasnya tanpa cela," bela Dalglish.

Sumber

Ditulis Oleh : News Online // 9:26 PM
Kategori:

0 comments:

Post a Comment